Agustusan (1)

Agustusan 1
Dibuat di Canva

Agustusan adalah nama lain dari perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945. Biasanya, dalam Agustusan ini, orang Indonesia sangat antusias. Mulai dari pasang bendera beberapa minggu sebelumnya, ikut lomba-lomba, bahkan karnaval.

Persiapan sebelum karnaval (Dokumen pribadi)
Karnaval Kelurahan Cibogo Tengah (Dokumen pribadi)

Aku seneng banget kalau ada acara ini. Kalau dulu, aku pernah ikut lomba makan kerupuk, padahal giginya lagi sakit, jadilah kerupuknya ada bekas darahnya. Karnavalnya juga asik. Di karnaval ini, kita bisa pakai baju apa saja, mulai dari pakaian adat, baju pramuka/polisi/tentara, bahkan sampe pakai daster aja juga bisa. Pokoknya, gila-gilaan. Nantinya, peserta akan keliling-keliling.

Lomba makan kerupuk, tapi kerupuknya udah habis (Dokumen pribadi)

Acara ini hanya dilaksanakan satu tahun sekali. Sama seperti negara lainnya yang punya acara kemerdekaannya yang juga dilaksanakan setahun sekali. Misalnya, parade saat Canadian Day (1 Juli), hari kemerdekaan A.S (4 Juli), dan National Day Parade di Singapura (9 Agustus). Acaranya juga meriah, tapi sayang belum pernah lihat langsung.

Kalau di tempat tinggalku, tiap tahun ada lomba-lomba. Biasanya yang ikut malah anak-anak. Ada lomba makan kerupuk, mindahin kelereng (kaleci/gundu) pake sendok, dan yang pasti masukin sumpit ke botol. Sayangnya, lomba yang tahun ini kurang meriah. Tapi, peserta paradenya pake baju yang menarik, jadi setidaknya masih bisa mengobati rasa rinduku. Untuk tahun ini, aku udah nggak ikut lomba sama karnival lagi, udah males.

Panjat pinang (Dokumen pribadi)

Waktu aku kecil, lombanya jauh lebih meriah. Ya, soalnya masih dimeriahin sama aa dan teteh yang sekarang udah kerja. Terus, waktu parade sampe ada aa yang jadi waria. Wah, heboh deh pokoknya.

Oh ya, yang beda dari Agustusan kali ini adalah, aku ikut upacara bendera di sekolah. Kalau dulu, upacara Agustusan biasanya diadain sesudah tanggal 17 Agustus. Tapi, untuk sekarang, upacara diadain pas tanggal 17 nya. Ada juga karnival dari kelurahan lain yang nggak kalah unik sama di lingkungan rumahku.

Bagaimana Agustusan kalian?

-Yos-

Euforia Sabtu 

Sabtu ini adalah hari tersibuk di minggu ini. Ya, pagi hari dimulai dengan kerja beres-beres kelas dan siangnya dilanjut dengan pergi benerin komputer yang papan ketiknya error. Ya, walaupun cuma dua kegiatan itu, tapi waktu yang dipakai lumayan banyak.

Tapi, sore ini ada yang beda. Hari ini, idolaku, Shane Filan (mantan anggota Westlife) konser di Bandung. Seneng banget rasanya. Tapi sayang, aku nggak beli tiketnya, karena aku mikirin juga kalau harus nunda tugas sekolah.

Waktu pertama kali buka Instagram, aku lihat ini dan aku seneng banget. (Dokumen pribadi)


Aku juga kaget, karena ada guru matematika SMP-ku yang ikut nonton. Beliau bahkan foto tiket konser di Instagram. Aku nyesel sih nggak bisa nonton. Sayang banget. Karena Shane belum tentu konser lagi di Bandung. Oh ya, walaupun aku nggak nonton, tapi setidaknya aku masih bisa merasakan euforia sebagai #TeamFilan, sebutan penggemar Shane Filan pada masa Westlife.

Kenapa suka Shane Filan?

Ehm, aku bisa jelaskan. Aku suka Shane sejak tahun 2015. Dia itu suaranya bagus dan tentu saja menarik. Sejak masih gabung Westlife, dia sering jadi lead vocal bareng Markus Feehily dan Bryan McFadden. Tapi, semenjak Bryan keluar tahun 2004, dia dan Markus yang jadi lead vocal Westlife.

Salah satu lagu yang aku suka di Westlife adalah My Love, apalagi di bagian lirik ” … reaching for the love that seems so far..” (yang merupakan bagian Shane nyanyi), itu aku suka. Sementara, sejak dia bersolo karier, lagu yang aku suka adalah Knee Deep In My Heart .

Satu lagi, Shane pernah bangkrut setelah Westlife bubar, dan berhasil bangkit kembali. Itu jadi satu nilai lebih dari dia.

Ada yang pernah alami euforia juga?

-Yos-

Eskul Fotografi

eskul fotografi
Dibuat di Canva

Guten Abend!

Siapa yang nggak tau fotografi? Pasti setiap orang kenal hobi yang satu ini. Ditambah lagi dengan adanya kemajuan teknologi, fotografi kini semakin digemari banyak orang. Termasuk aku.

Sejak kapan suka?

Entah dari usia berapa aku suka fotografi. Seneng aja gitu kalau motret pemandangan atau benda yang bagus. Udah dari lama aku kepengen banget ikut eskul fotografi. Tepatnya dari SD. Di SD ada sih, tapi eskulnya bayar Rp. 100.000, alhasil aku nggak jadi ikut. Kemudian lanjut ke SMP, di masa ini ada juga, tapi bayarannya lebih mahal lagi, ya kalau nggak salah hampir Rp 450.000. Karena bayar dan lumayan mahal, jadi aku tidak ikut.

Jadinya, selama masa itu, terutama ketika ayahku beliin kamera Canon IXUS 135 pas September 2014, aku belajar motret-motret sendiri dengan teknik-teknik yang baru. Ya, di awal-awal baru belajar motret, gambarku kebanyakan pecah karena ISO-nya tinggi. Hasilnya, gambar terlihat buram. Selain belajar sendiri, aku juga dibantu temen, namanya Debora.

Akhirnya, ada eskulnya!

Dan, semenjak aku SMA, aku semakin mencintai fotografi. Hasil fotoku, aku pos juga di Instagram. Oh ya, kabar gembiranya, di sekolahku yang baru ini memiliki eskul fotografi. Eskul ini namanya Fokrisen (Fotografi, Kriya, dan Seni). Tapi, kita bisa memilih, mau masuk divisi yang mana. Kalau aku, ya pasti fotografinya. Di eskul ini, aku adalah satu-satunya peserta yang gabung di divisi fotografi. Sedih sih, tapi dengan begini, aku bisa lebih fokus lagi belajar foto.

3
Suasana eskul Fokrisen. Kebanyakan peserta ikut di dalam divisi menggambar. (Dokumen pribadi)

Aku seneng banget ikut eskul ini, karena aku udah kepingin dari dulu, tapi baru kesampaian sekarang. Ini adalah beberapa hasil fotoku.

2
Beberapa karyaku (Dokumen pribadi)

Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga punya hobi fotografi?

-Yos-

Jam Kosong

Ilustasi jam digital (Dokumen pribadi)

Jam kosong? Bukankah itu menyenangkan? Jam kosong adalah salah satu jam yang awalnya ku benci. Mengapa? Karena pada jam ini, guru tidak mengajar pelajaran. Tapi, sekarang aku menyukainya. Kini aku semakin mengerti, kalau jam kosong tidak hanya dipakai untuk chatting atau selfie saja. Jam kosong bisa dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas yang belum sempat dikerjakan, baca buku, bahkan tidur siang (walaupun hanya sebentar). Kalau sempat juga, bisa menulis blog.

Oh ya, beberapa minggu setelah aku bersekolah di SMA Negeri, aku mulai merasakan banyak manfaat dari jam kosong. Antara lain, aku bisa belajar pelajaran atau hal-hal lain yang belum aku ketahui. Ini menyenangkan sekali. Pernah suatu waktu aku mengalami jam kosong selama satu hari penuh. Jadi, hal yang aku lakukan adalah membaca, makan bekal, ngobrol,  dan tentu saja tidur siang. Menurutku, jam kosong adalah keajaiban dunia nomor 8.

Satu lagi, jam kosong juga bisa mengurangi atau membantu jam belajar pribadi kita. Misalnya, kalau kita biasa belajar secara pribadi selama 5 jam (mulai dari pukul 18.00-23.00), tapi karena kita pulang sekolah pukul 17.00 dan langsung tidur, maka bisa dipastikan kita akan tertidur lebih dari satu jam dan akan bangun pada pukul 18.00, setelah itu langsung belajar sampai pukul 23.00. Tapi, kalau ada jam kosong, kita bisa manfaatkan untuk mengerjakan tugas kita, sehingga ketika kita pulang ke rumah, kita bisa mulai belajar dengan jam yang sama setiap harinya dan tidur lebih awal, karena pekerjaan kita sudah selesai di sekolah.

Bagaimana pengalaman jam kosong kalian?

-Yos-

Sekolah Negeri dan Swasta Serta Full Day School

Diambil dari Pixabay

Balik lagi kini ke topik sekolah. Namanya juga tahun pelajaran baru, jadi aku cerita pengalaman jadi siswa baru juga. Sekarang aku telah kelas 1 SMA. Bagian yang spesial bukan disitu. Tapi, adalah perpindahan sekolahnya.

Sekolah Swasta

Aku bersekolah di sekolah swasta Kristen selama 11 tahun sejak TK A sampai kelas 3 SMP. Di sekolah swasta, aku diajarkan disiplin dan pastinya tepat waktu. Aku juga bisa mendapatkan teman yang seiman serta guru-guru yang bekerja keras supaya muridnya bisa ikut ujian dengan nilai yang bagus. Aku salut sekali dengan mereka.

Tapi, kalau di swasta, tugas yang diberikan lebih banyak daripada yang di negeri. Waktu aku SMP, hampir setiap pelajaran mempunyai tugas yang harus diselesaikan sebelum pertengahan bulan Agustus. Tugas itu ditujukan untuk acara Open House. Aku kadang suka repot kalau itu tugas kelompok dan yang membantunya sedikit.

Satu lagi, karena aku belajar di sekolah yang punya banyak keturunan Tionghoanya, maka aku juga bisa mengenal kebudayaan mereka.

Sekolah Negeri

Sekarang, aku memutuskan untuk masuk ke sekolah negeri. Karena sudah terbiasa sistem yang diajarkan di sekolah swasta, aku jadi aneh ketika berada disini. Kultuurschock (bahasa Jerman: culture shock) namanya. Disini keadaanya lebih santai. Waktu istirahat yang seharusnya 30 menit, bisa menjadi 1 jam karena gurunya selesai mengajar sebelum waktunya.

Plus, karena sekolahnya dekat dengan rumah (hanya sepuluh menit jalan kaki dari rumah), jadi aku bisa berangkat lebih siang dan bisa belajar pelajaran yang aku belum sempat dipelajari.

Ini sangat membantu, apalagi dengan adanya sistem full day school (yang sampai sekarang aku masih keberatan), aku bisa mencicil mana pelajaran yang bisa dipelajari sesudah sekolah dan sebelum sekolah tanpa menganggu waktu tidur.

Oh ya, sama seperti ketika aku di sekokah swasta, aku juga bisa belajar menghargai yang lain. Seperti yang diketahui bahwa mayoritas pelajar yang ada di sekolah negeri adalah beragama Islam, maka sebagai minoritas, aku harus belajar menghargai mereka. Misalnya, tidak menyinggung dengan hal-hal yang berbau sensitif.

Tentang full day school

Sedikit melenceng dari pembahasan, tapi ini opini tentang kebijakan full day school di Indonesia. Jujur, sebenarnya aku nggak suka, tapi mau tidak mau harus dijalani. Sistem ini bermaksud agar siswa bisa mengeksplorasi kemampuannya. Kalau sampai ini aku masih setuju. Tapi, masalahnya full day school itu minimal belajar 8 jam sehari.

Jam belajar di Indonesia memang masih lebih sedikit daripada Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang. Kalau di sana, ada sekolah yang mewajibkan muridnya datang juga pada malam hari hanya untuk belajar. Kalau sistem seperti ini diterapkan di Indonesia, pasti protesnya lebih banyak daripada sistem sekolah 8 jam.

Menurutku, kalau sekolah 8 jam sehari itu sudah biasa, karena ketika aku di swasta, memang hampir setiap hari sekolah 8 jam sehari. Tapi, pada kenyataannya, jika sekolah 8 jam sehari ditambah eskul/pelajaran lain 2 jam sehari, total jadi sekolah 10 jam sehari. Ini sangat melelahkan. Bahkan, ada petisi Change.org yang menolak full day school karena tidak cocok untuk semua anak.

Jakarta yang sibuk (via Pixabay)

Maksudnya, sistem ini akan berjalan baik di kawasan perkotaan yang sibuk seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan karena kebanyakan orang tua siswa bekerja dan pulang di sore hari. Karena siswanya pulang sore hari juga, maka mereka bisa menjemput anaknya dari sekolah dan bisa bertemu juga.

Bantu ibu di sawah (via Pixabay)

Sementara yang di desa, apakah sistem ini efektif? Kalau dulu, setelah pulang sekolah (yang biasanya siang hari) anak membantu orang tua di kebun atau di sawah. Tapi, kalau sekarang, mereka pulang sore dan tidak bisa bantu orang tuanya.

Satu lagi, selain berdampak dengan jam pulang siswa. Sebenarnya, guru juga menjadi lebih lelah, karena kalau siswa sekolah 8 jam, mereka bisa bekerja (untuk menilai pekerjaan siswa) lebih dari 8 jam.

Yah, tapi mau bagaimana lagi? Aku masih berharap kalau sistem ini dihapus dan diatur seperti sistem pendidikan Finlandia yang jam belajarnya sedikit, tapi efektif.

Bagaimana dengan pendapat kalian?

-Yos-



Migrasi Blog: Dari Blogger ke WordPress

autumn moments
Dibuat di Canva, gambar diambil dari Pixabay.

Migrasi blog? Apaan tuh?

Sejak 4 Agustus 2017, Yos’ Notes pindah dari Blogger ke WordPress. Aku sebenarnya punya dua blog, tapi yang aktif hanya satu. Oktober 2014, aku membuat blog di WordPress, yaitu Catatan Yosia (https://yosiaadyasta.wordpress.com), tapi aku malas mengaturnya, karena WordPress itu ribet. Kedua, pada bulan Februari 2015, aku membuat blog di Blogger, namanya Blognya Yosia (http://blognyayosia.blogspot.com), yang kemudian berganti nama pada bulan Juni 2017 yang lalu menjadi Yos’ Notes (http://yosadya.blogspot.com). Alasan penggantian nama bisa dilihat di sini.

Terakhir, mengapa aku beralih ke WordPress? Aku terpengaruh teman-teman sesama Blogger yang mempunyai blog berbasis WordPress. Jadi, aku mulai memikirkan bermigrasi ke sini. Ternyata, WordPress tidak sesusah Blogger dalam hal pengeditan artikel, tapi untuk urusan pengeditan tema, terkadang sulit dimengerti. Akupun harus mengulang lagi belajar WordPress, karena sudah lama sekali tidak memakai WordPress.

Walaupun bermigrasi, tapi konten yang ada di Blogger sama persis. Mengapa? Itu karena aku mengimpor seluruh artikel yang ada di Yos’ Notes (http://yosadya.blogspot.com) ke Yos’ Notes (https://yosadya2.wordpress.com) dan ini adalah pos pertama yang aku tulis langsung di WordPress. Oh ya, seluruh tautan yang beralamatkan http://yosadya.blogspot.com sudah diatur agar beralih ke laman ini.

Selamat datang di WordPress!

Apa kalian juga pernah berganti blog?

-Yos-

Khotbah Bahasa Inggris

GKI Maulana Yusuf (Dokumen pribadi)

Denger khotbah bahasa Inggris? Apa nggak pusing tuh


Minggu, 23 Juli 2017, adalah hari yang kutunggu-tunggu. Kenapa? Ya, karena aku akan bertemu tanteku yang tinggal di Jepang. Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu. Oh iya, beliau membawa juga pendeta beserta keluarganya dari Kawachinagano Church, Osaka ke Bandung. Rasanya senang sekali bisa bertemu walaupun hanya sebentar. 


Aku bertemu tanteku di kebaktian pemuda di GKI Maulana Yusuf. Aku, adikku, ibunda, tante, oom, dan temanku berangkat bersama-sama ke sana. Setibanya di sana, kami bertemu tanteku dan mengikuti presentasi pendeta. Disini, kami mengobrol dengan tanteku. Nama pendetanya adalah Ryousaku Inoue. Beliau menjelaskan sedikit tentang Kristen di Jepang. 

Kristen di Jepang 


Presentasi Pendeta Inoue (Dokumen pribadi)


Agama Kristen di Jepang adalah agama minoritas, karena penganutnya hanya sekitar 1% dari total penduduk Jepang. Walaupun demikian, mereka memiliki gereja. Begitu juga dengan sekolah Kristen yang ada di sana. 


Pak Inoue menjadi pendeta yang fokus terhadap pendidikan. Jadi, ia juga ada di sekolah Kristen. Uniknya, walaupun sekolah tempat ia bekerja adalah sekolah Kristen, namun sebagian besar muridnya adalah non-Kristen. Tetapi, ada pelajaran tentang kejadian di Alkitab yang harus dipresentasikan kembali menurut mereka. Setelah presentasi, kami makan camilan. 

Bagian yang ditunggu 


Saat khotbah (Dokumen pribadi)


Pukul 6 sore, kebaktian pemuda pun di mulai. Khotbah dilakukan dalam bahasa Inggris, tetapi tenang, inilah rahasia mengapa saya nggak pusing dengernya, ya siapalagi kalau bukan penerjemahnya. Penerjemahnya adalah Pendeta Roy – yang melayani di sana. Khotbah kali ini bercerita tentang bagaimana kita harus menggunakan talenta sebaik mungkin. 

Ia juga menceritakan kalau hidup di Jepang adalah perjuangan. Bagaimana tidak, sejak kecil mereka dituntut untuk bisa masuk sekolah terbaik. Itulah mengapa Jepang dan Korea Selatan menjadi negara dengan tingkat bunuh diri terbanyak di dunia. Hampir 35.000 jiwa bunuh diri setiap tahunnya. 


Pendeta Inoue dan keluarganya. Anaknya ada dua, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki itu pakai baju hitam dan dikuncir (Dokumen pribadi)


Pendeta Inoue juga menyanyi bersama keluarganya. Ia juga membaca Alkitab dalam bahasa Jepang (nah, kalau yang ini, aku nggak ngerti sama sekali), tetapi karena aku pegang Alkitab bahasa Indonesia, maka aku bisa sedikit mengikuti. Ada juga pemuda gereja tersebut yang menyanyi dalam bahasa Jepang. Aku beruntung bisa datang ke kebaktian kali ini. Karena, ini adalah kebaktian 3 bahasa yang pertama kali aku ikuti. Bahasa Inggris, Jepang, dan Indonesia dalam satu waktu kebaktian. Bukankah itu luar biasa?


Tanteku yang pakai baju hitam paling kanan (Dokumen pribadi)

Kalau temenku yang baju biru batik (Dokumen pribadi)


Seusai kebaktian, kami foto-foto dan bersalaman hingga akhirnya makan malam. Karena sudah pukul 8.30 malam, maka kami pulang. Sayang sekali, padahal aku masih ingin mengobrol banyak dengan tanteku, tapi karena besok sekolah, maka aku nggak boleh ke-cape-an.


Apakah kalian pernah denger khotbah dalam bahasa lain juga? 


-Yos-


BONUS FOTO!

 

Masa kecil kurang bahagia (Dokumen pribadi)


Iklan

Temen saya yang pake baju biru batik di foto di atas punya blog juga lho! Isinya tentang karya-karya digital beliau. Kalau mau lihat, boleh mampir ke Digital Art.