Khotbah Bahasa Inggris

GKI Maulana Yusuf (Dokumen pribadi)

Denger khotbah bahasa Inggris? Apa nggak pusing tuh


Minggu, 23 Juli 2017, adalah hari yang kutunggu-tunggu. Kenapa? Ya, karena aku akan bertemu tanteku yang tinggal di Jepang. Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu. Oh iya, beliau membawa juga pendeta beserta keluarganya dari Kawachinagano Church, Osaka ke Bandung. Rasanya senang sekali bisa bertemu walaupun hanya sebentar. 


Aku bertemu tanteku di kebaktian pemuda di GKI Maulana Yusuf. Aku, adikku, ibunda, tante, oom, dan temanku berangkat bersama-sama ke sana. Setibanya di sana, kami bertemu tanteku dan mengikuti presentasi pendeta. Disini, kami mengobrol dengan tanteku. Nama pendetanya adalah Ryousaku Inoue. Beliau menjelaskan sedikit tentang Kristen di Jepang. 

Kristen di Jepang 


Presentasi Pendeta Inoue (Dokumen pribadi)


Agama Kristen di Jepang adalah agama minoritas, karena penganutnya hanya sekitar 1% dari total penduduk Jepang. Walaupun demikian, mereka memiliki gereja. Begitu juga dengan sekolah Kristen yang ada di sana. 


Pak Inoue menjadi pendeta yang fokus terhadap pendidikan. Jadi, ia juga ada di sekolah Kristen. Uniknya, walaupun sekolah tempat ia bekerja adalah sekolah Kristen, namun sebagian besar muridnya adalah non-Kristen. Tetapi, ada pelajaran tentang kejadian di Alkitab yang harus dipresentasikan kembali menurut mereka. Setelah presentasi, kami makan camilan. 

Bagian yang ditunggu 


Saat khotbah (Dokumen pribadi)


Pukul 6 sore, kebaktian pemuda pun di mulai. Khotbah dilakukan dalam bahasa Inggris, tetapi tenang, inilah rahasia mengapa saya nggak pusing dengernya, ya siapalagi kalau bukan penerjemahnya. Penerjemahnya adalah Pendeta Roy – yang melayani di sana. Khotbah kali ini bercerita tentang bagaimana kita harus menggunakan talenta sebaik mungkin. 

Ia juga menceritakan kalau hidup di Jepang adalah perjuangan. Bagaimana tidak, sejak kecil mereka dituntut untuk bisa masuk sekolah terbaik. Itulah mengapa Jepang dan Korea Selatan menjadi negara dengan tingkat bunuh diri terbanyak di dunia. Hampir 35.000 jiwa bunuh diri setiap tahunnya. 


Pendeta Inoue dan keluarganya. Anaknya ada dua, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki itu pakai baju hitam dan dikuncir (Dokumen pribadi)


Pendeta Inoue juga menyanyi bersama keluarganya. Ia juga membaca Alkitab dalam bahasa Jepang (nah, kalau yang ini, aku nggak ngerti sama sekali), tetapi karena aku pegang Alkitab bahasa Indonesia, maka aku bisa sedikit mengikuti. Ada juga pemuda gereja tersebut yang menyanyi dalam bahasa Jepang. Aku beruntung bisa datang ke kebaktian kali ini. Karena, ini adalah kebaktian 3 bahasa yang pertama kali aku ikuti. Bahasa Inggris, Jepang, dan Indonesia dalam satu waktu kebaktian. Bukankah itu luar biasa?


Tanteku yang pakai baju hitam paling kanan (Dokumen pribadi)

Kalau temenku yang baju biru batik (Dokumen pribadi)


Seusai kebaktian, kami foto-foto dan bersalaman hingga akhirnya makan malam. Karena sudah pukul 8.30 malam, maka kami pulang. Sayang sekali, padahal aku masih ingin mengobrol banyak dengan tanteku, tapi karena besok sekolah, maka aku nggak boleh ke-cape-an.


Apakah kalian pernah denger khotbah dalam bahasa lain juga? 


-Yos-


BONUS FOTO!

 

Masa kecil kurang bahagia (Dokumen pribadi)


Iklan

Temen saya yang pake baju biru batik di foto di atas punya blog juga lho! Isinya tentang karya-karya digital beliau. Kalau mau lihat, boleh mampir ke Digital Art.

Advertisements

Masuk SMA

Ketemu teman baru deh! (via Giphy)


Sebelumnya minta maaf, karena posnya lama banget. Lagi sibuk MOS soalnya. 😅

Aku masih baru anak sekolah, satu SMA..

 

Akhirnya aku masuk SMA. Aku diterima di SMAN 15 Bandung. SMA ini merupakan pilihan keduaku. Pilihan pertamaku adalah SMAN 3, tapi karena nilainya tidak mencukupi, akhirnya malah diterima di SMA 15. Seneng banget rasanya.

Hari Pertama Sekolah

Persiapan sebelum MOS (Dokumen pribadi)

Aslinya, aku masuk sekolah tanggal 17 Juli, tapi 2 hari sebelumnya, ada pengarahan terlebih dahulu tentang barang apa saja yang perlu dibawa. Barang bawaannya banyak, tapi untungnya nggak aneh-aneh. Jadi, begitu pulang, aku langsung beli barang-barangnya.

Aku juga beli baju putih abu di pasar. Rasanya bangga punya seragam SMA. Tapi, karena kaki aku kurang panjang, maka ada bagian celana yang harus dipotong. Yah, ini kesalahanku sendiri karena kurang olahraga. Maklum, anak rumahan. 😆

Masa Orientasi Sekolah

Aaaaa, kenapa sih harus ada MOS? (via Giphy)

Sebenernya, aku takut banget sama yang namanya MOS. Soalnya waktu SMP, sering seangkatan ditegur. Jadi, aku anggap MOS itu menyeramkan. Tapi, kalau MOS kali ini, cuma beberapa kali ditegurnya. Oh ya, beda tingkatan, beda pula ceritanya.

Karena di SMA mulai ada penjurusan, maka ada psikotes untuk menentukan jurusan. Sampai artikel ini ditulis, aku masih belum tahu masuk jurusan mana. Aku berharap sekali bisa masuk IPS, banyak hafalan, tapi aku tetap suka.

Capek juga, karena kebanyakan duduk (via Giphy)

Hari pertama MOS yang sebenarnya adalah tanggal 18 Juli. Karena tanggal 17-nya ada psikotes terlebih dahulu. MOS hari pertama ini, aku diperkenalkan tentang lingkungan sekolah dan hal-hal apa saja yang ada di sekolah ini. Cukup lama memang, tapi setidaknya, aku masih bisa menikmatinya.

Retreat di Wisma Pratista (via facebook.com/norsitanggang66)

Tanggal 19-20 nya, aku retreat ke Wisma Pratista di Cisarua, Lembang bersama kakak kelas yang beragama Kristen dan Katolik. Disitu, kami diberitahu bagaimana kami harus menentukan tujuan (cita-cita) dan mengatur waktu. Wah, lebih seru daripada acara MOS-nya. Karena, disini tidak seketat peraturan saat MOS.

Hari terakhir, 21 Juli 2017, adalah hari pengenalan ekstrakurikuler. Ekstranya banyak banget, ada 20 ekstra. Alhasil, aku harus sekolah dari pukul 6.30 sampai 17.50. Itu sudah termasuk upacara pembukaan, makan siang, dan kegiatan keagamaan. Sisa ekstra yang belum diperkenalkan, dilakukan pada hari Senin, 24 Juli 2017.

Masa Adaptasi

Kalau ini tentang masalah adaptasi diri ya. Jadi, sejak aku TK hingga SMP, aku bersekolah di sekolah swasta yang peraturannya lebih ketat daripada sekolah negeri. Otomatis, segala sesuatu yang biasa diterapkan di sana sudah seperti mendarah daging. Sekarang, karena aku berada di negeri, aku harus mulai menyesuaikan mana yang masih bisa di lakukan seperti saat bersekolah di swasta dan mana yang harus mengikuti aturan di sekolah negeri.

Oh ya, sebagai penutup, aku juga mulai dapat teman baru, jumlahnya lumayan banyak, dan aku mulai melakukan kegiatan yang aneh menurutku, tapi tidak aneh bagi teman-temanku, ya apalagi kalau bukan Instagram Boomerang. Serta, aku bisa belajar menghargai teman yang berbeda latar belakang.

Bagaimana dengan kalian?

-Yos-

Cita-Cita

Dibuat di Canva, gambar diambil dari Pixabay


Karena masih dalam masa liburan sekolah (liburnya panjang banget, hampir 2 bulan setelah UN), jadi aku bahasnya yang santai-santai.

Catatan Yos kali ini mau cerita tentang cita-cita. Pasti kalian semua punya cita-cita. Entah itu jadi dokter, arsitek, bintang film, atau bahkan bisa dapet restu dari calon mertua. Kalau bahas bagian ini pasti nggak akan fertig (bahasa Jerman: selesai).

Mau jadi apa nanti?

Mau menolong orang, makannya dulu mau jadi dokter (via Pixabay)

 

Cita-cita Yos dari sebenernya banyak. Bahkan dari kecil, aku udah sering ditanya, “Cita-cita kamu apa, Yos?” sama ibunda tercinta. Dulu aku jawab mau jadi dokter, terus ganti jadi arsitek, internet marketeer (pengusaha yang kerjanya berbasis di internet), dan sekarang mau jadi desainer grafis (walaupun aku cuma suka Photoshop doang). Pokoknya ganti-ganti terus cita-citanya. 

Tempat Kuliah

Jepang (via Hipwee)

Selain yang mengarah ke profesi, aku juga punya cita-cita tentang tempat kuliah. Dulu banget, aku pengen ke Jepang, karena di sana ada sepupu aku. Tapi aku nggak suka Jepang karena budaya kerjanya yang nggak kenal waktu bahkan sampai meninggal dunia, istilahnya karoshi.

Universitas Nanyang di Singapura ini punya bangunan yang unik lho! (via YouTube)

 

Kedua, aku mau banget kuliah di Singapura. Di sini, aku kepengen banget kuliah teknik di Nanyang. Tapi aku kurang suka karena biaya hidupnya mahal. (Ya iyalah mahal, wong Singapur itu negara maju 😆).

Universitas Sorbonne (via TripAdvisor)

 

Ketiga, aku mau ke Paris. Waktu itu, aku lagi demen banget sama yang namanya astronomi. Waktu aku cari-cari di situsnya Universitas Sorbonne, ada fakultasnya ternyata. Sejak itulah, aku mulai belajar bahasa Prancis. Tapi, karena susah, maka nggak ada niatan lagi untuk ke Prancis.

Massachusetts Institute of Technology, Boston (via TripAdvisor)

 

Keempat, aku mau ke Boston, AS. Nggak tahu kenapa aku mau ke sini. Kalau jadi ke Boston, aku kepengennya masuk ke Massachusetts Institute of Technology (MIT). Tapi, sejak Bom Maraton Boston di tahun 2013, aku nggak jadi ke Boston. 

Berliner Technische Kunsthochschule, Berlin (via StayFriends)

 

Terakhir, aku pengen banget ke Berlin. Ibunda bilang kalau di Jerman itu cocoknya untuk anak teknik dan kedokteran, pokoknya yang berhubungan dengan IPA. Aku sebenernya nggak suka IPA, tapi aku mau ke Jerman untuk kuliah S2 desain grafis disana. FYI, Jerman adalah negara yang biaya pendidikannya GRATIS, itulah mengapa aku mau ke sini. Ada sih sebenernya universitas yang punya fakultas desain grafis, namanya BTK.   

Bahkan, aku sampe nyempetin nonton vlog-vlog orang Indonesia yang kuliah di Jerman, kaya Gita Savitri, Quita Windiartono, dan temen-temennya mereka.

Amsterdam, Belanda (via Pixabay)

Sekarang, aku masih mikir mau kuliah di mana kalau di luar negeri. Kayanya aku akan pikirin lagi kuliah di Prancis, bahkan di Belanda. Karena Belanda dan Prancis itu condongnya lebih ke arah seni. 

Ini hanya basa-basi saja tentang cita-citaku. Cita-cita kamu pernah berubah juga nggak?

-Yos-  

Seminggu Tanpa Internet

Dibuat di Canva, gambar diambil dari Pixabay.

Dewasa ini, internet adalah kebutuhan setiap orang. Entah untuk cari kabar Song Joong Ki dan Song Hye Kyo yang bentar lagi mau menikah, jualan Fidget Spinner di toko online, atau nonton vlognya Felipe Valdés. Yang pasti banyak banget manfaatnya. 

Yos nggak akan bahas tentang internetnya. Tapi, yang akan aku bahas adalah pengalaman seminggu tanpa internet! Sebenarnya, aku nggak tahan juga kaya gini. Karena internet adalah teman sehari-hari. Aku bukannya kesepian, tapi kadang banyak hal yang nggak cocok sama teman-teman aku. 

Oh ya, kenapa aku bisa nggak pake internet selama seminggu? Jawabannya adalah karena aku lupa beli kuota dan Wi-Fi di kampung mati. Alhasil, aku terbebas dari tuntutan menjawab pesan (siapa juga yang mau kirim pesan ke Yos? 😅)

Kegiatan seminggu tanpa internet   

 

Terus, ngapain aja selama seminggu? 

Banyak kok yang bisa dilakukan. Hidup tanpa internet tidak selamanya mengubah hidupmu seperti zaman purba. Justru, kamu akan merasakan bagaimana orang-orang hidup pada zaman pra internet (FYI, internet pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1996). Tetap asik juga. Baca buku, nonton televisi, mengetik cerita di laptop, dan tentunya hobi baruku, fotografi. 

Kalau kalian bisa mengatur kegiatannya seasik mungkin, pasti nggak akan cepet bosen. Video dibawah adalah lagu Upin-Ipin, selama seminggu, aku selalu nonton ini.



Selain itu, aku juga jalan-jalan ke rumah nenek, Alun-Alun Kebumen, dan pit-pitan (bahasa Jawa: main sepeda) di jalan. Wah seru banget. Aku juga coba es serut yang porsinya besar dan pakai sirup warna-warni (kalau yang giginya sensitif, pakai pasta gigi sensitif dulu ya sebelum makan ini, jadi promosi deh).

Walaupun kegiatannya itu-itu aja, tapi aku tetep seneng. Aku jadi bisa merasakan langsung jadi warga zaman biyen (bahasa Jawa: dahulu). Walaupun awalnya kesiksa, toh masih ada yang lebih berguna daripada internet.


Apa kalian mau coba juga? Atau ada pengalaman yang sama?


-Yos-

Mudik Lebaran

Dibuat di Canva, gambar dari Pixabay

Sebelum lanjut nulis artikel, Yos mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H! 


Seharusnya, aku pos artikel ini minggu lalu, tapi sayang, koneksi wi-fi-nya nggak ada. Bukan cuma sehari, tapi seminggu. Jadi, ya, selama seminggu aku nggak bisa internetan. Mungkin nanti aku bisa cerita tentang hidup tanpa internet selama seminggu.


Setiap liburan semester, aku selalu pulang kampung ke Kebumen, Jawa Tengah. Biasanya, waktu yang ditempuh dari Bandung adalah 8-10 jam. Tapi, karena berangkat H-1 sebelum Idul Fitri, maka waktu tempuhnya sama dengan Bandung-Yogyakarta dalam keadaan lalu lintas sedikit padat (12 jam). Walaupun lama, tapi jujur, liburan kali ini adalah yang terbaik.


Keluar dari Kota Bandung tanpa melewati Tol Purbaleunyi, bisa melaju dengan cepat di dekat Nagreg (yang merupakan pusat kemacetan setiap libur hari raya tiba), melihat pawai takbiran di jalan raya, dan tentunya melihat kembang api adalah hal yang menyenangkan. 


Obor malam takbiran di Kemranjen, Banyumas. (Dokumen pribadi)

Pengalaman liburan

Aku berangkat bareng adikku, ibuku, dan ayahku. Ayahku yang menyetir mobil. Kalau perjalanan pakai mobil, sebenarnya aku sedikit risih juga, karena barang bawaan di mobil banyak dan ada yang diletakan di bawah kursi mobil, jadi kaki tidak bisa bergerak secara bebas di mobil. 


Cuaca di luar juga panas, bawaannya ngantuk terus, dan karena aku ada hobi baru, ya, apalagi kalau bukan fotografi (bisa di cek di Instagramku). Sebenarnya banyak yang bisa aku foto, tapi kameraku ada di tas. Jadi, nggak sempat.


Jalan dekat alun-alun. (Dokumen pribadi)
Bacaan selama liburan. (Dokumen pribadi)
Foto-foto kali dekat rumah nenek. (Dokumen pribadi)

Aku sampai di Kebumen jam 10 malam, lelah sekali rasanya. Ya, memang aku tidur jadi tiga kali sehari, tapi tetap saja perjalanan jauh membuat aku ngantuk. Selama di Kebumen, aku pergi ke rumah Simbah dan main ke Alun-Alun Kebumen. Aku juga melanjutkan belajar bahasa Jerman dan baca buku. Tak lupa nonton televisi juga.


Masha and The Bear (via Kaskus)

Kalau soal televisi, aku sukanya nonton kartun dan film India. Misalnya Upin Ipin, Curious George, Masha and The Bear, dan Fan. Pokoknya acara televisi liburan itu asik banget untuk ditonton daripada hari-hari biasa. Selain kartun, aku juga suka nonton acara grebekan polisi. Entah itu grebek narkoba ataupun razia hotel.


Liburan kali ini aku bertemu dengan oom, tante, saudara, dan tentunya nenek ku. Satu hal yang paling aku suka dari liburan kali ini adalah, aku dapat banyak THR (maksudnya, sangu atau uang jajan). Entah kenapa, kalau lihat uang, otakku selalu memikirkan untuk menghabiskan uang tersebut. Tapi, itu hanya sementara. 


Aku pulang seminggu setelah kedatanganku di Kebumen. Aku harus pulang lebih awal untuk pendaftaran SMA. Karena ikut arus balik, jadi ya macet lagi. Tapi, waktu tempuhnya hanya 11 jam. 

Jembatan di atas Kali Serayu, Banyumas. (Dokumen pribadi)
Hutan di Majenang, Cilacap, karena bagus, jadi aku foto. (Dokumen pribadi)

Bagaimana liburan kalian?


-Yos-