Makna Ramadhan Bagi Yos

Makna Ramadhan Bagi Yos
Dibuat di Canva

Lahir dan besar di negara dengan mayoritas penduduk Muslim membuat Yos harus beradaptasi dengan budayanya, salah satunya puasa di bulan Ramadhan.

Sebelumnya aku mau ngucapin selamat memasuki bulan Ramadhan bagi yang merayakan. Semoga ibadah puasanya lancar. Sebenernya, aku mau nulis artikel ini pas waktu tanggal 1 Ramadhan kemarin (16 Mei 2018), tapi karena lagi sibuk UKK, jadi aku tunda.

Oh ya, artikel ini 100% berisi pengalamanku saat orang lain menjalankan ibadah puasanya. Tidak ada maksud menghina agama lain. Tapi, aku mau bahas ini sebagai bentuk keberagaman budaya di Indonesia.

Apa itu Ramadhan?

Bulan Ramadhan adalah bulan suci bagi umat Muslim di seluruh dunia. Di bulan inilah biasanya umat Muslim melakukan puasa. Mereka bangun dan makan sebelum matahari terbit dan makan lagi pada saat matahari terbenam.

Di Indonesia, budaya Ramadhan lainnya adalah takjil, buka bersama, dan apalagi kalo bukan ngabuburit. 3 hal ini adalah sesuatu yang mudah ditemukan bila Ramadhan menjelang. Entah itu muda maupun tua, pasti mereka banyak melakukan kegiatan ini.

kitchen-2373461_1920
Masak-masak buat makanan buka puasa (via Pixabay)

Untuk ngabuburit sendiri, sebenernya aku nggak tau bahasa Indonesia apa, tapi kalo dijelaskan kira-kira semacam kegiatan untuk mengisi sisa-sisa waktu sebelum berbuka. Bisa dengan meyiapkan makanan buka puasa, jajan takjil, ato bahkan memperdalam ilmu agama.

Lah, terus maknanya bagi Yos mana?

Kalo makna bagiku tentu aja ada. Saat bulan Ramadhan, ada satu hal yang aku nggak mau lakuin di tempat umum (kecuali kalo darurat), yaitu makan sama minum di saat orang lain berpuasa. Maksudku adalah karena aku pengen ngehargain mereka yang berpuasa. Tapi, kadang kalo lagi haus ato laper banget, ya mau nggak mau harus makan ato minum saat itu juga.

coffee-2306471_1920
Saat Ramadhan, aku lebih sering minum di rumah dibandingkan dengan di luar rumah (via Pixabay)

Bagiku, Ramadhan adalah bulan yang istimewa. Ya, meskipun aku nggak puasa, tapi kadang banyak takjil ato makanan yang jarang ditemuin di saat-saat yang lain. Misalnya, sop buah. Entah kenapa kalo makan sop buah di bulan Ramadhan itu rasanya lebih enak dibanding bulan-bulan yang lain.

Ramadhan juga merupakan saat untuk menghormati orang lain. Karena bagaimanapun juga, kita hidup di dunia yang beragam. Jadi, menghormati adalah salah satu hal yang harus dilakukan supaya kita diterima dan dihargai orang lain.

Lantas, apa makna Ramadhan bagimu?

-Yos-

Advertisements

Kursus Bahasa Jerman

Kursus Bahasa Jerman
Dibuat di Canva

Gruß dich! (halo) Akhirnya, setelah lama belajar bahasa Jerman sendiri, aku bisa ikut kursus bahasa Jerman.

Akhir Maret yang lalu, aku daftar ke Goethe Institut Bandung supaya bisa kursus Bahasa Jerman. Wie schön! (bahasa Jerman: senangnya!). Sebenernya, aku nggak bakalan nyangka kalo Ibunda mau daftarin aku ke Goethe. Karena aku nganggep kalo belajar bahasa Jerman itu bisa otodidak. Tapi, aku sendiri memang agak susah buat belajar bahasa secara otodidak, soalnya banyak kata ato jenis kalimat tertentu yang memang harus dijelasin orang lain dulu supaya aku paham.

Ngapain aja di Goethe?

Kursus bahasa Jerman di Goethe itu asik kok. Di sana kita bisa belajar bahasa Jerman yang menyenangkan dan mudah diinget. Pertemuan pertamaku dimulai tanggal 31 Maret 2018. Waktu itu aku belajar tentang Kennenlernen alias perkenalan. Mulai dari belajar untuk memperkenalkan diri sendiri ke orang lain sampe nanya bahasa apa yang kamu pahami/pelajari.

Selain belajar teori, aku juga belajar praktek bicara alias Sprachen ke temen-temen baruku. Mulai dari nanya „Wie heißt du?” (”siapa nama kamu?”), „Woher kommst du?“ (”dari mana asal kamu?”), dan „Wo wohnst du?“ (”di mana kamu tinggal?”). Di pertemuan lain, guruku yang bernama Frau Ayu (tapi lebih senang dipanggil Ayu , tanpa titel frau), menceritakan sedikit pengalamannya berjuang menjadi guru di Goethe. Jadi guru di Goethe memang susah, tapi Frau Ayu berjuang supaya bisa lulus dan ngajari orang lain di Goethe.

Kennenlernen
Salah satu catetan yang dikasih sama Frau Ayu (Dokumen pribadi)

Frau Ayu juga pake bahasa pengantar Jerman hampir 90%. Jadi, secara tidak langsung, kita bisa belajar bahasa Jerman hampir secara keseluruhan. Misalnya, Frau Ayu akan ngomong „Hören Sie bitte!“ waktu ada audio yang mau di-play.

Oh ya, beberapa minggu yang lalu juga aku mengikuti ujian bahasa Jerman untuk pertama kali. Rasanya deg-degan, tapi setelah belajar agak keras, aku mendapatkan nilai 96. Ya, sebenernya dikit lagi menuju nilai 100, tapi dengan nilai 96 pun, aku sudah seneng.

Aku punya temen-temen baru yang beragam latar belakangnya. Mereka ada yang masih kelas 1 SMA, 2 SMA, kuliah, bahkan ada yang udah kerja. Salut buat mereka yang udah kerja, karena mereka masih bisa bagi waktu buat kursus bahasa Jerman.

Sebelum kursus bahasa Jerman

Aku udah pernah nyeritain ini taun lalu. Jadi, kalo taun lalu aku belajar Jerman sendiri lewat buku-buku. Tapi aku kurang semangat karena nggak ada tutor ato orang yang bisa diajak belajar Jerman, alhasil bahasa Jermanku kurang berkembang. Cara lain yang aku lakuin untuk belajar bahasa Jerman, yaitu lewat lagu-lagu. Lagu bahasa Jerman yang pertama kali aku denger pake bahasa Jerman adalah Pendel dari Yvonne Catterfeld.

Selain lagunya enak dan mudah diinget, lagu ini juga jadi cara untuk mengenal lagu-lagu lain dari Jerman. Misalnya lagunya Namika, Mark Forster, Andreas Bourani, Max Giesinger, dan Wincent Weiss. Twitterku juga diganti pake bahasa Jerman supaya biasa ngebuka media sosial pake bahasa Jerman.

Meningkatkan kemampuan bahasa Jerman

Selain dengerin lagu pop Jerman, kadang aku suka minjem film dari Goethe. Film-film yang aku tonton menarik dan bisa nambahin pengetahuan tentang Jerman. Aku juga membiasakan diri untuk ngetik pake keyboard bahasa Jerman yang formatnya ”QWERTZ” dan ganti bahasa di user Windows dan media sosialku. Mungkin agak berlebihan, tapi aku yakin cara ini bisa meningkatkan kemampuan bahasa Jermanku.

Media Player
Koleksi lagu bahasa Jerman di Windows Media Player (Dokumen pribadi)
das
Buat catetan tentang artikel ,,das” dan ditempel di tembok kamar. (Dokumen pribadi)

Bagaimana dengan kalian? Adakah kursus-kursus tertentu yang kalian pernah ikuti?

-Yos-

Catatan UTS X (2)

Catatan UTS X 2
Dibuat di Canva

Catatan UTS/UAS yang biasanya aku buat tiap hari terakhir UTS/UAS, tapi karena minggu setelah UTS kemaren aku sibuk, jadi baru bisa sekarang nulis catetannya

UTS Semester 2 kemarin aku belajar dengan waktu yang lebih sedikit daripada UTS sebelumnya. Waktu itu, aku lagi nggak semangat buat baca materi UTS. Dari yang biasanya belajar bisa dari jam 8-12 malem, untuk UTS kemaren, aku cuma belajar dari jam 11-12 malem dilanjut jam 4-5 pagi.

Untuk beberapa pelajaran, memang ada yang materinya sedikit, jadi bisa cepet baca materinya. Untuk pelajaran Matematika, aku malah nggak sempet latihan soal karena memang belajarnya baru jam 4 pagi. Untungnya, materinya cuma Trigonometri.

Hasil UTS alias rapotnya pun udah dibagiin. Semua nilai bagus, tetapi, ada satu nilai yang menurut Ibunda harus dinaikin lagi, ya pelajaran sosiologi tentunya. Dari SMP, materi sosiologi adalah materi yang paling susah menurutku, karena banyak pemahamannya. Mulai dari harus paham jenis-jenis interaksi dan yang paling memuakan adalah harus memahami penjelasan dari tokoh-tokoh sosiologi macam Karl Marx, Soerjono Soekanto, dan Koentjaraningrat.

karl-marx-2868685_1920
Karl Marx, tokoh yang pasti ada di setiap bagian di buku sosiologi (via Pixabay)

Sakit dan kurang tidur

Di hari terakhir UTS, aku malah jatuh sakit. Kepalaku pusing dan badanku terasa panas. Ya, ini karena kebiasaan kurang tidur selama UTS kemarin. Waktu pusingku sudah pulih, eh malah kena diare. Jadi, akhir pekan itu aku tidak sempat untuk nulis blog. Tapi, aku malah buat video YouTube pertama di minggu berikutnya setelah UTS.

Ya, video itu bisa dibilang dari awal aku mau bikin vlog sih, tapi kalo ngedit videonya, aku belum jago banget, jadi aku pending dulu untuk ngevlog.

Bagaimana hasil UTS kalian kemarin?

-Yos-

10 Tahun Punya Komputer

10 Tahun Punya Komputer
Dibuat di Canva, gambar diambil dari Lelong Malaysia

April 2008, ya tepat 10 taun yang lalu, Ayahku beli komputer untuk di rumah. Kalo nggak salah, waktu itu harganya sekitar Rp. 5 juta. 

Waktu itu, aku masih TK B dan seneng banget bisa punya komputer baru. Ya, dulu isi komputernya cuma game sama aplikasi Microsoft Office 2003, tapi setelah dibeliin modem di taun 2012, komputerku sudah terhubung ke internet dan mulai banyak aplikasi lain yang ku install.

Game

Game yang dulu aku mainin di komputer adalah game keluaran PopCap dan GameHouse. Mulai dari Zuma Deluxe, Bejeweled 2, Pizza Frenzy, sampai Insaniquarium pernah aku mainin. Rasanya seru banget main game itu. Bahkan pernah sampe undang tetangga buat main bareng. Kalo sekarang, aku udah nggak begitu tertarik game itu.

Pizza Frenzy
Pizza Frenzy yang dulu aku mainin. (Dokumen pribadi)

Coba-coba

Karena yang namanya bocah alias anak kecil itu banyak kepo-nya, jadi aku coba-coba banyak fitur di komputer aku. Mulai dari dengerin Lelaki Buaya Darat – Ratu sampai coba-coba nulis surat untuk sodara. Dulu sih nulis, eh maksudnya ngetik suratnya cuma sekadar say hello aja.

Dulu aku juga sempet gonta-ganti background di komputer dan paling parahnya adalah ngehapus data-data penting. Waktu itu aku dimarahin Ayah, tapi tetep aja aku cuek sambil gambar bukit. Dulu juga, hampir tiap taun komputerku harus dibawa ke tukang servis karena banyak virusnya.

Virus itu asalnya dari aplikasi yang aku download dan itu berlangsung terus menerus. Sampai- sampai, komputerku harus diupgrade Microsoft Windows sampe 2 kali. Dari Windows XP ke Windows 7 sampe yang terakhir ke Windows 10.

Salah satu virus itu adalah Trojan Horse, virus yang bisa dibilang nggak gampang ilang walaupun antivirus udah dinyalain. Bahkan, memori HDD komputerku harus diganti, dari 80 GB jadi 500 GB.

Sekarang, komputerku lebih sering dipakai untuk ngetik tugas, ngedit di Adobe Photoshop, internetan, dan tentunya main game The Sims 3.

Apa yang kalian lakuin waktu main komputer?

-Yos-

 

JaJal: Jalan Riau-Balaikota Bandung

Jajal Jalan Riau - Balaikota Bandung
Dibuat di Adobe Photoshop

Seri artikel JaJal adalah akronim dari Jalan-jalan. Seri ini akan aku tulis kalo aku lagi jalan-jalan ke suatu tempat.

Sewaktu aku pulang dari Goethe, aku masih nyempetin buat ke Balaikota Bandung, karena di Balaikota ada tempat-tempat baru yang dibangun. Sebelumnya, rute perjalanan kali ini dimulai dari Jalan Riau/R.E Martadinata-Jalan Merdeka-Taman Sejarah-Bandung Planning Gallery-Balaikota Bandung.

Jalan Riau/R.E Martadinata

Jadi, sepulangnya dari Goethe, aku jalan kaki dari Jalan Riau ke Balaikota Bandung. Jalan Riau di Bandung masih memiliki banyak pohon dan terlihat rindang. Jalan Riau di Bandung dikenal sebagai kawasan factory outlet/FO. FO merupakan toko-toko yang menjual banyak barang, terutama pakaian, sepatu, dan tas.

Banyak FO bisa kita temui di sini dan banyak juga yang memiliki konsep FO yang unik. Oh ya, mulai masa pemerintahan Ridwan Kamil sebagai walikota Bandung, di Jalan Riau kini tersedia juga sepeda yang bisa dipakai secara umum.

Jalan Merdeka

Lanjut ke Jalan Merdeka, aku melihat banyak bangunan komersial yang berjajar di sini, ditambah di jalan ini terdapat mall tertua di Bandung, yaitu Bandung Indah Plaza, yang sudah ada sejak dekade 90-an. Sejak beberapa taun yang lalu, di jalan ini dibangun apartemen dan hotel milik Best Western.

Jalan Merdeka selalu jadi tempat yang macet di akhir pekan, karena terhubung dengan Jalan Dago di utara dan Jalan Riau di timur. Lebar jalan di Bandung memang tidak selebar jalanan Jakarta, jadi kalo macet kaya gini, ya tinggal nunggu aja sampe kelar. Ahahaha 🙂 .

11
Sabtu bersama macet (Dokumen pribadi)

3. Taman Sejarah

12
Tulisan “Sejarah Bandung di Era Wiranatakusumah” yang terlihat di Taman Sejarah. (Dokumen pribadi)

Di dekat Jalan Merdeka, ada taman kecil yang bernama Taman Sejarah. Pintu masuk Taman Sejarah bisa dilalui dari jalan Aceh. Taman ini merupakan bagian dari Balaikota Bandung. Di taman ini, terdapat mural tentang program apa saja yang ada di Bandung, kolam kecil, dan tentunya gambar tokoh-tokoh penguasa Bandung dari masa lampau sampai masa Ridwan Kamil.

5. Bandung Planning Gallery

13
Maket Bandung di Bandung Planning Gallery (Dokumen pribadi)

Bandung Planning Gallery adalah salah satu wisata galeri perencanaan kota yang unik dan desain interiornya terkesan futuristik dengan pemakaian lampu yang minim di langit-langit, tetapi cukup terang di area tembok bagian bawah.

Di galeri ini, pengunjung bisa melihat maket kota Bandung dan sekitarnya, mengetahui sejarah Bandung, melihat rencana-rencana yang akan dilakukan di kota Bandung (termasuk proyek Bandung Teknopolis yang merupakan pusat pemerintahan baru Bandung di Gedebage), dan ada VR juga! VR atau Virtual Reality berisi animasi yang menggambarkan transportasi metro kapsul Bandung di stasiun-stasiun tertentu.

Ketika di awal-awal aku nyobain pake VR, aku agak mual karena gambar yang di depan kita itu berjalan dengan cepat. Maklum, baru pertama kali nyobain VR, jadi agak norak gitu.

6. Balaikota Bandung

14
Balaikota yang sudah direnovasi (Dokumen pribadi)

Balaikota Bandung yang dulu membosankan, sekarang menjadi menarik lagi karena adanya penataan taman. Di balaikota sendiri, kurang lebih ada 2 taman, yang satu Taman Balaikota, dan yang satu lagi, aku lupa namanya. Kedua taman itu berdekatan lokasinya.

Di Balaikota, kalian bisa melihat beberapa jenis ayam, burung, dan tentu saja kelinci yang dipelihara di sini. Jumlahnya memang sedikit, tapi itu bisa menambah daya tarik sendiri pengunjung balaikota Bandung.

Selain itu, di balaikota, kita juga bisa menemukan labirin. Labirin ini memang tidak seperti labirin yang memiliki jalan buntu. Labirin ini memiliki jalan yang semuanya terhubung, karena luas labirin ini termasuk sempit.

Ya, walaupun masih agak cape jalan dari Goethe Institut Bandung, tapi aku seneng bisa jalan-jalan sampai Balaikota Bandung.

Ke mana kalian jalan-jalan akhir pekan ini?

-Yos-

Bersih-bersih Lemari

Bersih-bersih Lemari
Dibuat di Canva

Hari ini, aku nyempetin bersih-bersih lemari karena isinya yang udah kebanyakan. Ya, cepet sih ngebersihinnya dan nggak terlalu capek. Di lemariku, aku nemuin banyak barang yang sebenernya udah nggak kepake tapi masih aku simpen, kaya kertas-kertas ulangan SMP, buku panduan Microsoft Windows XP, kertas-kertas hasil print yang gagal, dus-dus flashdisk, dan tentunya plastik.

Kotor? Iya.

Berantakan? Iya.

Barang-barang yang udah nggak kepake aku pisah jadi 3 bagian, yaitu barang yang masih kepake, barang yang udah nggak kepake, dan barang yang harus dibuang. Dari pembagian 3 bagian itu, ternyata barang yang harus dibuang jauh lebih banyak. Mulai dari dus-dus kecil bekas, brosur, dan koran-koran bekas yang udah nggak kepake.

Banyak memang, tapi kenapa dulu aku simpen barang-barang yang sekarang udah dibuang itu? Alesannya cuma satu, yaitu “siapa tau nanti bisa dipake lagi”. Ya, sekarang malah kenyataannya, barang-barang itu cuma menuhin lemari dan nggak dipake lagi malah. Jadi, aku bersihin aja deh.

Oh ya, barang yang masih kepake, aku masukin lagi ke lemari supaya nanti bisa diambil lagi, sementara untuk barang yang udah nggak kepake, aku masukin ke dus supaya bisa disortir lagi sama Ibunda dan siapa tau ada yang bisa disumbangin.

Selain misahin barang-barang. Aku juga nemu banyak tabloid, brosur hape, hasil karya, dan buku yang dulu aku suka banget. Ini dia fotonya:

brosur2
Brosur dan iklan koran. Ternyata masih ada potongan iklan Nokia N72 🙂 . (Dokumen pribadi)
majalah
Majalah tentang mobil, National Geographic Indonesia edisi November 2013, dan buku One Direction. Dulu aku sempet jadi Directioner, tapi cuma 2 taun. (Dokumen pribadi)
tabloid
Tabloid Pulsa, paling atas: taun 2014, tengah: 2015, dan paling bawah 2016. (Dokumen pribadi)
telur_paskah
Telur Paskah yang dihias (Dokumen pribadi)

Bagaimana pengalaman kalian bersih-bersih lemari? Apa ada yang malah nostalgia sama barang temuannya?

-Yos-

Mampir Goethe Institut Bandung

Mampir Goethe Institut Bandung
Dibuat di Canva

Guten morgen, Ich bin Yosia. Ich bin 16 Jahre alt und komme aus Bandung. Ich werde schreiben mein Gesischte in Goethe Institut Bandung ereignis. 

(Selamat pagi, nama saya Yosia. Saya berumur 16 tahun dan berasal dari Bandung. Saya akan menulis cerita saya di acara Goethe Institut Bandung.)

15
Spanduk acara “Jerman Kuy Ah! (Dokumen pribadi)
goethe_pembukaan
Acara pembukaan di Goethe. Gambar kiri: Persiapan pembukaan acara, gambar kanan: Sambutan dari Kepala Goethe Bandung (Doumen pribadi)

Sabtu yang lalu adalah hari yang bisa bikin aku seneng. Kenapa? Ya, karena aku bisa dateng ke acara Jerman Kuy Ah! di Goethe Institut Bandung. Ini adalah kali pertama aku dateng ke sana.

Acaranya dimulai dari jam 10-16. Tapi, aku cuma dateng sampe jam 15, karena jam segitu udah mulai banyak yang pulang. Lumayang banyak yang dateng ke acaranya dan karena aku termasuk 100 orang pertama yang mampir ke Goethe, jadi aku dapet Bratwurst. Bratwurstnya enak bangetsaking enaknya, aku nggak sempet foto, soalnya aku makan duluan 🙂 .

Oh ya, di sana ada banyak kegiatan. Mulai dari kursus bahasa Jerman kilat (yang gratis), ada stand dari DAAD, Studienkolleg Indonesia (Studkol), dan tentu aja Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia, kuis berhadiah, dan tentu aja presentasi dari DAAD, Studkol, Kedubes Jerman, serta alumni orang Indonesia yang udah kuliah di Jerman.

Ada juga tarian khas Jerman (yang aku nggak tau namanya), tari Jaipong, dan paduan suara. Oh ya, di stand-stand DAAD, Studkol, dan Kedubes Jerman, kita bisa nanya-nanya informasi tentang studi di Studkol (sekolah penyetaraan selama 10 bulan sebelum kuliah di Jerman), syarat-syarat pendaftaran Visa bagi pelajar (dan ada juga syarat pendaftaran Visa Schengen yang bisa dipake di regional Uni Eropa), juga beasiswa dari DAAD.

Di sana, aku ikut kursus kilat bahasa Jerman. Pengajar di sana sopan dan ramah, serta mengajarkan bahasa Jerman secara langsung dan cepat. Aku belajar tentang cara menanyakan nama orang, dan menemukan informasi dari poster tentang negara Jerman. Sesi yang paling asik menurutku adalah sesi menemukan banyak informasi dari poster tentang negara Jerman.

Di poster itu, ada banyak gambar informasi mulai dari mencari nama kota, ikon kota, dan masih banyak lagi.

Oh ya, perpustakaan yang ada di Goethe Bandung menurutku bagus dan pencahayaannya sangat memadai, jadi kita bisa baca buku dengan enak. Sejauh ini, aku  baru liat-liat gambar bukunya dulu, karena aku nggak ngerti isinya 🙂 .

buku_goethe
Koleksi buku yang lengkap di Goethe Bandung (Dokumen pribadi)
goethe_koleksi_buku
Buku-buku yang sempet aku liat (Dokumen pribadi)
goethe_depan
Gedung Goethe Institut Bandung dari depan pagar, difoto sebelum pulang (Dokumen pribadi)

Ada yang pernah ke acara Goethe atau ke institusi bahasa asing/pusat kebudayaan lainnya ?

-Yos-